Manga
Pasar Manga Jepang Tembus Rekor, tapi Minat Baca Generasi Muda Justru Menurun
Pasar Manga Jepang Tembus Rekor, tapi Minat Baca Generasi Muda Justru Menurun

Seputar Otaku - Industri manga Jepang mencatat pencapaian besar dengan nilai pasar yang menembus sekitar 700 miliar yen dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul kekhawatiran serius terkait menurunnya jumlah pembaca, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja.

Pandangan ini disampaikan oleh Ichishi Iida dalam kolomnya di President Online. Berdasarkan berbagai data riset yang ia kumpulkan, terdapat indikasi kuat bahwa minat baca manga di kalangan generasi muda mengalami penurunan signifikan, baik dalam format fisik maupun digital.

Secara historis, popularitas manga di Jepang sangat ditopang oleh majalah dan antologi seperti Weekly Shonen Jump. Pada masa puncaknya di era 1980-an, pelajar tingkat SMP dan SMA bisa membaca hingga sekitar 10 majalah manga per bulan. Namun, berdasarkan data terbaru hingga 2025, angka tersebut turun drastis menjadi hanya sekitar satu majalah per bulan, dengan sekitar 77,7% siswa bahkan tidak lagi membaca majalah manga sama sekali.

Penurunan ini juga terlihat dari data jangka panjang yang membandingkan tingkat pembacaan manga fisik. Pada 1985, tingkat pembacaan di kalangan siswa SD, SMP, dan SMA masing-masing mencapai 88%, 85%, dan 77%. Angka tersebut menurun pada 2023 menjadi 68%, 60%, dan 49%.

manga

Meski demikian, manga fisik masih lebih populer dibandingkan versi digital di kalangan anak-anak dan remaja Jepang. Tingkat pembacaan manga digital tercatat sekitar 15% untuk siswa SD, 35% untuk SMP, dan 49% untuk SMA.

Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan pola konsumsi media. Dibandingkan dengan Korea Selatan yang sukses mengembangkan ekosistem webtoon digital, Jepang dinilai belum mampu menghadirkan ekosistem manga digital yang ramah bagi anak-anak. Salah satu faktor utamanya adalah model bisnis digital yang cenderung berorientasi pada pasar dewasa, seperti sistem langganan dan pembelian dalam aplikasi yang relatif mahal.

Selain itu, keterbatasan konten digital yang ditujukan khusus untuk anak-anak juga menjadi kendala. Meski beberapa penerbit seperti Corocoro Comics telah mencoba beradaptasi dengan merilis aplikasi baca manga sejak 2022, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mengembalikan minat baca generasi muda ke tingkat sebelumnya.

Temuan ini menunjukkan adanya paradoks dalam industri manga Jepang: di satu sisi, nilai pasar terus meningkat berkat ekspansi global dan digitalisasi; namun di sisi lain, basis pembaca domestik—terutama dari generasi muda—justru mengalami penurunan yang signifikan.